Memberikan Workshop ICT di Dili Timor Leste

From SpeedyWiki

Jump to: navigation, search

Contents

[edit] Memberikan Workshop ICT di Dili Timor Leste

Atas undangan rekan-rekan dari Asosiasi ICT Timor Leste, seperti, Ray da Silva dan Lemi.

Pada tanggal 28 January 2008, Onno W. Purbo berangkat ke Dili dari Jakarta melalui Denpasar Bali menggunakan pesawat Merpati tipe Boing 737-200. Pesawat Merpati tiba di Dili sekitar jam 1-2 siang di Airport Dili yang berbatasan secara langsung dengan pantai.

Airport Dili sangat menarik, terlihat ada sekitar delapan (8) helikopter tempur kelas black hawk Amerika Serikat parkir di apron, tempat parkiran pesawat di airport Dili, Di samping ke delapan (8) helikopter tempur tersebut, terdapat beberapa heli lain yang ada dalam hanggar darurat. Tidak jauh dari tempat helikopter tersebut terdapat "kompleks" militer kecil di lokasi airport. Instalasi dan peralatan militer tersebut tampaknya di operasikan oleh kesatuan dari Australia dengan bendera PBB / UN. Tampaknya siaga militer masih cukup tinggi di Timor Leste. Belakangan saya ketahui dari rekan-rekan ICT-TL bahwa helikopter black hawk tersebut jarang digunakan untuk bertempur lebih banyak untuk show force saja, dan melakukan patroli.

Turun dari pesawat, berjalan kaki melalui selasar ke gedung terminal. Langsung di hadapan kami ada tempat untuk memperoleh Visa on Arrival dengan membayar US$30. Tanpa di minta atau di tanya macam-macam. Oya, tampaknya mata uang di Timor Leste adalah mata uang US$ semua. Belakangan saya ketahui dari rekan-rekan ICT-TL bahwa memang mata uang Timor Leste adalah US$, menarik untuk di simak bagi negara sekecil ini ternyata memang lebih menarik menggunakan mata uang US$ daripada membuat mata uang sendiri.

Imigrasi Timor Leste di Airport dapat dilalui dengan mudah dengan memperlihatkan surat undangan yang di peroleh dari ICT Timor Leste. Tanpa banyak menunggu lama, setelah memperoleh semua peralatan di bagasi saya keluar dari Airport langsung melihat wajah Ray dan Lemi yang berseri-seri di luar gedung bandara.

Kami langsung berangkat menuju hotel untuk cekin dan meletakan pakaian. Pada saat keluar dari Airport kami melihat banyak tenda-tenda pengungsi lokal Timor Leste di Airport. Menurut teman-teman ICT-TL mereka adalah pengungsi pada saat kerusuhan tahun 2006 lalu. Sampai hari ini masih saja mengungsi padahal kerusuhan sudah tidak ada.

Dili Beach Hotel berlokasi di Kampung Allor, Dili terletak di pinggir jalan sepanjang pantai. Bagi Onno yang biasa hidup di Jakarta, pantai Dili ini sangat indah. Paling tidak kita tidak dapat melihat batas biru laut dan biru langit semua seperti satu kesatuan.

Sesudah cekin dan meletakan pakaian di Hotel, kami langsung menuju kantor ICT Timor Leste tempat Lemi bekerja dan tempat acara akan di lakukan esok harinya,

Pada sore itu, kami mempersiapkan semua peralatan yang ingin digunakan untuk workshop, terutama membangun LAN, membangun sedikit demo untuk acara pembukaan. Agar dari sisi fasilitator tidak terjadi kerepotan, kami harus menginstalasi repository lokal ubuntu dari iso 5 DVD Ubuntu repository yang di peroleh dari Juragan kambing http://juragan.kambing.ui.edu.

Membuat Repository Ubuntu Lokal dengan cara mengcopykan iso DVD repository Ubuntu, me-mount iso DVD tersebut dan membuat ftp server. Hal ini penting sekali artinya agar proses instalasi software dapat dilakukan tanpa memasukan CDROM ke semua komputer. Artinya proses penambahan software murni mengandalkan LAN, hal ini menjadi proses training menjadi sangat effisien. Proses yang sama juga akan sangat bermanfaat pada operasi Linux sehari-hari di sebuah sekolah atau kantor.

Lemi sempat bercerita sedih tentang ICT Timor Leste yang tempat training-nya sempat di jarah, di bakar pada masa kerusuhan tahun lalu. Sekarang mereka membangun kembali tempat training-nya dari bawah.

Yang akan menjadikan training ini menarik adalah kami harus berjuang dengan waktu karena listrik dapat mati sewaktu-waktu, beberapa kali dalam sehari. Di samping akses Internet yang relatif mahal.

Malam hari itu juga kami mengkonfigurasi seluruh komputer yang ada menggunakan Ubuntu 7.04 Alternate yang bentuknya text mode sehingga cukup mudah & effisien untuk menginstal di mesin-mesin kecil.

[edit] 29 Januari 2008

Helikopter berseliweran setiap 1-2 jam sekali di atas hotel tempat Onno W. Purbo menginap. Rasanya di pagi hari, Onno W. Purbo mendengar rentetan letusan senjata atau mercon, Entahlah, maklum belum pernah berada di lokasi peperangan. Walaupun kata teman-teman di ICT-TL kemungkinan itu bukan letusan senjata, karena letusan senjata pasti akan terdengar di seluruh Dili.

Pagi 29 January, acara workshop ICT di buka oleh Bapak Flavio Neves Direktur ICT Pemerintah dari kementrian Transportasi dan Telekomunikasi Timor Leste.serta didampingi kordinator umum Asosiasi ICT Timor Leste Abel Pires da Silva. Pak Flavio Neves Direktur ICT rasanya pernah bertemu dengan Onno di sebuah acara yang di selenggarakan oleh MIMOS di Malaka, Malaysia beberapa tahun berselang. Pada kesempatan pembukaan acara sempat di demokan sedikit apa yang akan di berikan kepada rekan-rekan di Timor Leste, meliputi, Linux, VoIP dan Wireless Network. Pak Direktur cukup terkaget-kaget pada saat di demokan handphone tanpa sim card dan juga rekan Oscar dari Timor Leste mendemokan menelepon dari laptop-nya ke handphone beliau.

Setelah pembukaan, pertama-tama yang dilakukan adalah belajar menset komputer di jaringan. Mengkonfigurasi IP address, DNS di Ubuntu baik melalui text maupun menu administrasi. Kemudian mentest sambungan di jaringan menggunakan ping. Dari teknik ini langsung kita mengetahui komputer mana yang tidak tersambung.

Hal yang akan sangat penting untuk dilakukan adalah menset sources.list dari Ubuntu agar tidak mengambil software yang akan di install di Ubuntu ke Internet. sources.list harus di ubah dan di arahkan ftp server tempat iso DVD di letakan.

Di sisi komputer fasilitator, perjuangan perlu juga dilakukan untuk membuat DHCP Server sendiri agar komputer di LAN dapat mengakses secara automatis. Di awal konfigurasi DHCP server sempat gagal. Setelah di bantu menggunakan Webmin, konfigurasi DHCP server baru dapat dilakukan dengan benar.

Selanjutnya membuat server Asterisk di Server Ubuntu. Proses instalasi Asterisk tidak menggunakan source code dan mengcompile-nya. Proses instalasi asterisk menggunakan proses instalaasi

apt-get install asterisk.

Ternyata asterisk telah tersedia di Ubuntu.

Seharian kami berjuang untuk menginstalasi Asterisk di Ubuntu yang terinstall di mesin Pentium III jadul heheh. Ternyata tidak mudah untuk langsung terjun menginstalasi sentral telepon ke komunitas yang sebagian masih sama sekali belum pernah memegang Linux.

Selanjutnya adalah mengkonfigurasi asterisk dengan cara mengedit file sip.conf dan extensions.conf agar user dapat mendaftarkan diri ke sentral telepon asterisk yang kita buat.

Satu komputer di persiapkan untuk di install AsteriskNow http://www.asterisknow.org untuk kemudian menjadi server VoIP untuk demonstrasi VoIP di hari terakhir. Walaupun kemudian rencana di ubah karena server asterisk di komputer Rubens ternyata telah siap.

Terus terang salah satu materi VoIP yang paling rumit adalah ENUM. Untuk dapat mengerti dan menjalankan ENUM dengan baik mau tidak mau harus belajar membuat sendiri DNS server. DNS Server di instalasi dengan menginstal aplikasi bind9.

Peserta belajar mengkonfigurasi DNS menggunakan Webmin agar dapat dilakukan melalui Web. Instalasi Webmin relatif sederhana karena hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan sederhana hingga akhirnya selesai di install dan dapat langsung digunakan.

Peserta berhasil menjalankan ENUM di DNS Server BIND9 dan melakukan mapping +6709xxxxxxxx menjadi ENUM dengan format x.x.x.x.9.0.7.6.e164.ict.tl. Alokasi nomor telepon di Timor Leste saat ini adalah +6707xxxxxxxx yang digunakan oleh Timor Telecom. Semoga rakyat Timor Leste memperoleh alokasi nomor sendiri, yaitu, +6709xxxxxxx yang berbasis pada teknologi ENUM dan 4G.

Pada kesempata ini, ENUM gagal di jalankan di Asterisk. kemungkinan besar karena format ENUMLOOKUP yang dilakukan di asterisk versi terbaru mungkin berbeda dengan ENUMLOOKUP versi yang lama.

[edit] 30 January 2008

Pagi hari ini tampaknya cukup cerah. Onno berkesempatan menikmati indahnya pagi di Dili.

Hari ke dua (2) training rekan-rekan Asosiasi ICT Timor Leste ternyata terbukti membuat kepala pusing banyak peserta.

Di awali dengan sebuah topik yang berat, yaitu, membuat sendiri Webmail di masing-masing komputer Ubuntu. Yang membuat kesulitan menjadi sangat tinggi adalah Webmail yang dibuat harus dapat berkomunikasi dengan komputer lain, saling berkirim e-mail.

Langkah awal yang membuat semua orang pusing adalah memastikan bahwa komputer kita mempunyai domain / nama yang benar. Cara yang dilakukan adalah menjalankan DNS Server dengan cara menginstalasi bind9. Agar proses konfigurasi dapat dilakukan dengan mudah maka konfigurasi dapat dilakukan menggunakan Webmin.

Pada masing-masing server di pastikan harus mempunyai domain sendiri, yang memiliki entri A (Address), NS (Name Server) dan MX (Mail Exchange). Untuk melakukan test di edit file /etc/resolv.conf dan di isikan parameter nameserver 127.0.0.1. Menggunakan perintah dig harus dapat me-resolve domain yang dibuat.

Proses yang membuat rumit DNS adalah memastikan bahwa antar Domain saling mengenal satu sama lain. Hal ini dilakukan oleh komputer fasilitator yang berfungsi sebagai DNS pusat. Melalui Webmain di komputer fasilitator di buat Forward Zone ke masing-masing domain di komputer peserta. Selanjutnya peserta harus mengedit file /etc/resolv.conf dan mengarahkan nameserver ke IP address komputer fasilitator.

Pada titik ini maka semua komputer yang settingnya benar akan dapat saling meresolve DNS komputer lain. Termasuk dapat meresolve informasi Mail Exchange (MX) yang dibutuhkan untuk berkirim e-mail.

Membuat webmail tidak terlalu sulit di Ubuntu. Untuk membuat mail server saja, Kita hanya perlu menginstall postfix, dovecot-imapd dan dovecot-pop3d. Agar mail tersebut dapat di akses melalui Web, kita perlu menginstalasi Apache2 dan squirrelmail. Semua menggunakan perintah instalasi Debian yaitu apt-get.

Pada titik ini biasanya kita dapat mentest mail server yang digunakan menggunakan software seperti evolution atau Thunderbird. Bagi mereka yang masih menggunakan Windows dapat menggunakan software seperti Outlook Express.

Sedikit tuning yang perlu di lakukan adalah mengcopy file /etc/squirrelmail/apache.conf ke folder /etc/apache2/conf.d/ agar Webmail dapat di akses dari http://ip-server/squirrelmail/

Agar kita memastikan bahwa mail dari luar dapat masuk dengan baik kita perlu mengedit file /etc/postfix/main.cf dan memastikan bahwa parameter myhostname, mydestination isinya benar. Biasanya mynetworks juga di remarks agar membuka kemungkinan server lain berbicara ke SMTP server yang kita bangun.

Sampai disini mail server dan Webmail biasanya sudah berjalan dengan baik. Kita dapat berkirim mail secara lokal, kita juga dapat mengirim dan menerima mail ke komputer lain layaknya Internet biasa. Fasilitas ini sangat dibutuhkan karena selama ini rekan-rekan dari Asosiasi ICT Timor Leste lebih banyak menggunakan Yahoo.com untuk berkirim e-mail yang menyebabkan komunikasi Internet menjadi mahal.

Membuat mail server yang dapat berkomunikasi satu sama lain ternyata memakan waktu yang sangat lama hampir setengah hari penuh. Itupun hanya tiga (3) komputer yang survive sampai dapat berkomunikasi satu sama lain. Oleh karena itu metoda workshop selanjutnya lebih banyak dilakukan bentuk demonstrasi.

Demo selanjutnya lebih banyak berkisar pada Content Manajemen System (CMS) yang berbasis Web. Pada dasarnya Instalasi CMS sangat mudah sekali, yang perlu dilakukan adalah,

  • mengcopy source code CMS ke folder web di /var/www
  • mengextract source code CMS di folder Web
  • menyiapkan Database server, MySQL, untuk CMS tersebut
  • memberitahu CMS data dari database server yang harus digunakan
  • biasanya diakhiri dengan mengkonfigurasi Web CMS sedikit.

Beberapa CMS yang berhasil di demonstrasikan adalah instalasi Joomla, instalasi Moodle, instalasi Wordpress, instalasi KnowledgeTree, dan instalasi MediaWiki.

Di sela-sela workshop, terdengar mesin helikopter Australia yang terbang rendah melakukan patroli.

Di sore hari, workshop di lanjutkan dengan membuat sendiri Antenna Wajanbolic. Secara umum teknik perhitungan Wajanbolic yang digunakan tidak berbeda jauh dengan Wajanbolic e-goen. Dengan keterbatasan peralatan dan sarana yang ada di Timor Leste, Lemi harus memodifikasi teknik membuat antenna wajanbolic menggunakan kertas aluminium foil yang di lem menggunakan lem pralon - maka jadilah metoda Lemi dalam membuat Wajanbolic Timor Leste.

Selanjutnya di jelaskan teknik-teknik perhitungan Wireless Network mulai dari konsep power dBm, Free Space Loss di udara, Fresnel Zone Clearance hingga akhirnya dapat menghitung System Operating Margin dan dapat memastikan jarak komunikasi menggunakan Wajanbolic yang hampir 4 km-an.

Setelah mengerti perhitungan pada link Wireless. Peserta kemudian mulai di jelaskan teknik merancang jaringan wireless di sebuah kota atau di kenal sebagai Metropolitan Area Network (MAN). Di perkenalkan konsep Frekuensi Ortogonal / Non-Overlapping Frequency, yaitu, kombinasi channel 1, 6, 11 atau channel 1, 5, 9, 13. Penggunaan polarisasi antenna untuk melakukan separasi. Disain sel di sebuah kota menggunakan tower antenna omni, menggunakan antenna sektoral baik dengan 3 channel non-overlap atau 4 channel non-overlap. Menjadi jelas pula mengapa penggunaan antenna sektoral membuat sistem menjadi lebih effisien.

Terakhir di malam harinya, mulai di perkenalkan teknik instalasi Mikrotik di komputer. Maupun penggunakan Router board yang sudah jadi dengan peralatan Wireless-nya. Kebetulan router board yang dibawa adalah dari UFOAkses http://www.ufoakses.co.id.

Proses konfigurasi mini-ISP menggunakan mikrotik di jelaskan dengan demo konfigurasi melalui Winbox mulai dari pengenalan Interface, Setup Wireless Network, Setup IP address, dan setup NAT maupun DHCP Server jika dibutuhkan. Satu hal yang sangat penting pada sebuah ISP adalah bandwidth manajemen melalui menu queue di jelaskan teknik memanaje bandwidth menggunakan mikrotik.

Terus terang dengan adanya Mikrotik membuat proses konfigurasi sebuah router bahkan ISP kecil menjadi sangat mudah dan murah untuk dilakukan sendiri.

[edit] 31 January 2008

Tampaknya pagi merupakan waktu yang menarik untuk orang berolah raga di Dili. Setiap pagi banyak orang Australia maupun Timor Leste yang berlari-lari kecil di sepanjang jalan di muka hotel Dili yang lokasinya di pinggir pantai.

Seperti hari-hari lainnya, helikopter tampak terbang rendah dan melakukan patroli.

Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, pagi hari-nya, bersama Abel Pires koordinator umum Asosiasi ICT Timor Leste, Lemi, Oscar, kami berangkat menemui Menteri Pemuda dan Olah Raga Timor Leste, Miguel Manetelu. Beliau membawahi departemen ICT maupun departemen olah raga.
Tampaknya beliau mengangkat ICT pada tingkat / prioritas yang lumayan tinggi. Salah satu program beliau adalah memajukan ICT untuk rakyat di Timor Leste. Semoga ilmu yang diberikan belakangan kepada teman-teman dari Asosiasi ICT Timor Leste akan dapat membantu mewujudkan cita-cita beliau. Tampak pada foto adalah Oscar, Abel, Onno, Menteri Pemuda dan Olah Raga Timor Leste - Miguel Manetelu, dan Lemi.

Sekembali dari kantor Menteri Pemuda dan Olah Raga, program pelatihan rekan-rekan Asosiasi ICT Timor Leste kami lanjutkan kembali. Pagi ini kami mencoba memfokuskan diri pada network security. Di terangkan, teknik serangan ke dalam jaringan komputer, mulai dari sniffing menggunakan Wireshark, membaca paket yang lewat, bahkan membaca username password maupun berita e-mail yang lewat di jaringan. Kami banyak berdiskusi masalah pemalsuan berita dan e-mail. Sampai akhirnya mulai melakukan offensif sederhana seperti port scanning menggunakan NMAP hingga akhirnya memasang backdoor pada Server Linux. Tentunya teknik serangan tidak akan lengkap jika tidak di terangkan teknik pertahanan seperti pendeteksian serangan menggunakan snort hingga konfigurasi firewall iptables baik secara manual maupun di bantu Webmin secara grafik.

Sisa waktu yang ada kami investasikan untuk melakukan persiapan untuk melakukan demonstrasi kepada publik tentang teknologi yang kami pelajari dalam workshop Linux, VoIP dan Wireless yang di organize oleh Asosiasi ICT Timor Leste. Tampak pada gambar Ray da Silva dengan beberapa teman-teman sibuk melakukan test VoIP melalui antenna wajanbolic Timor Leste yang dibuat sendiri.

Cukup banyak rekan-rekan media maupun dari militer Timor Leste yang hadir dalam demonstrasi hasil workshop yang dilakukan oleh Asosiasi ICT Timor Leste. Tampak pada gambar Lemi sedang dengan berapi-api menjelaskan ke hadirin tentang teknologi yang di kembangkan yang memungkinkan Timor Leste untuk mengadopsi IT secara halal, memiliki akses Internet murah dan Telepon yang gratis. Coverage mediapun lumayan banyak, tampak pada gambar adalah Abel yang sedang sibuk di wawancara oleh media. Satu hal yang paling menarik di acara demo ini adalah banyak-nya rekan-rekan dari Militer Timor Leste yang hadir, hal ini menjadi kesempatan bagi rakyat biasa dari Indonesia untuk berfoto dengan Militer Timor Leste.

Sore hari setelah selesai semua acara, kami naik ke bukit di pinggir kota Dili. Kami dapat melihat kota Dili dari ketinggian juga Istana Presiden. Kemudian kami turun menuju pantai Dili sebelah timur yang indah tempat penduduk Dili melepas lelah di hari sabtu / minggu.

[edit] 1 February 2008

Tanggal 1 February jam 1:00 waktu Dili pesawat Merpati Boing 737 akan membawa Onno W. Purbo kembali ke Jakarta.

Pagi hari-nya, pukul 9 pagi, Onno bersama Ray dan Abel, berangkat ke sebuah akademi IOB Institute of Business yang di pimpin oleh Agusto Soares. Pada kesempatan tersebut Onno untuk memberikan sedikit pencerahan dan motivasi bagi mahasiswa IOB Institute of Business yang mempunyai background jurusan ekonomi / business maupun Teknologi Informasi. Hadir dalam kesempatan tersebut sekitar 100+ mahasiswa IOB, diskusi terutama sekitar pengalaman membangun Internet murah maupun telepon murah. Di samping itu, seperti biasanya mahasiswa kadang kala complain dengan keterbatasan infrastruktur yang ada. Nasihat yang di sampaikan oleh Onno untuk lebih kreatif dengan kondisi yang ada, jangan menganggap kekurangan infrastruktur sebagai penghalang untuk maju. Ketidak adaan infrastruktur bukan berarti seseorang tidak bisa maju, justru sebaliknya akan keberhasilan seseorang mengatasi keterbatasan yang akan akan menjadi kunci keberhasilan orang tersebut di kemudian hari.

Sekolah ke dua yang di kunjungi pagi itu setelah IOB adalah SOL 24/7 Science of Life. Sekolah Science of Life perlu di catat dalam sejarah perjuangan ICT di Timor Leste, karena di tempat ini pertama kali Wajanbolic Timor Leste mengudara di Timor Leste di letakan di sebuah pohon kelapa. Sampai sekarang pohon kelapa tersebut masih berfungsi sebagai tempat sambungan Internet wireless, hanya saja Wajanbolic Timor Leste di ganti dengan antenna semigrid parabolic yang lebih bagus lagi performance-nya.

Selain di temani oleh Abel dari Asosiasi ICT Timor Leste, kami di pandu oleh Rous Sarun Ahzarone salah seorang teacher di sekolah School of Life. Rous Sarun Ahzarone dari Cambodia. Ternyata guru-guru School of Life berdatangan dari banyak negara di kawasan Asia Tenggara, saya bertemu dari Malaysia dan Singapore selain dari Cambodia. School of Life merupakan sebuah sekolah yang unik selama 2 tahun, 24 jam / 7 hari, anak-anak terbaik dari berbagai distrik di Timor Leste dengan kondisi ekonomi yang terbatas mereka dapat belajar di sekolah ini. Kira-kira mirip pesantren lah kalau di Indonesia. Mereka belajar bahasa Inggris, komputer, dan Ilmu Kehidupan. Mungkin karena para murid dari School of Life merupakan anak-anak yang terbaik dari distrik mereka, maka suasana pertemuan lebih hidup walaupun mereka harus duduk di lantai. Diskusi menjadi menarik karena para siswa, mungkin semua orang muda di dunia, sangat tertarik untuk memperoleh akses Internet murah, untuk dapat menelepon gratis - pertanyaan sangat bertubi-tubi sebagian harus ditangani langsung oleh Abel untuk menjelaskan permintaan para siswa untuk secara praktis mempelajari ilmu-ilmu ICT tingkat yang tinggi ini.

Selesai sudah misi di pagi hari sebelum berangkat ke Airport untuk memberikan motivasi dan semangat bagi anak-anak muda di Timor Leste untuk lebih bersemangat mempelajari ICT dan berkiprah di dalamnya. Berangkatlah kami ke airport. Sebelum dilakukan perpisahan Abel mengalungkan kain Asosiasi ICT Timor Leste yang mempunyai warna bendera Timor Leste. Hal ini sempat menyebabkan petugas bandara menyangka Onno W. Purbo adalah pemegang passport diplomatik. Terima kasih Abel, Lemi, Ray, Yahya dan banyak lagi rekan-rekan Asosiasi ICT Timor Leste.

Alhamdullillah, pengalaman yang sangat mengesankan bagi seorang rakyat Indonesia biasa saja, Onno W. Purbo, untuk dapat menyebarkan ilmu-nya bagi rakyat Timor Leste dengan tidak lupa membawa oleh-oleh banyak kenangan menarik dah beberapa bungkus kopi Timor yang sangat terkenal itu.

Setibanya di Cengkareng, Jakarta sedang parah-parahnya di landa Banjir pada tanggal 1 February 2008. Tidak ada bus DAMRI yang jalan ke Airport maupun dari Airport. Akibatnya, malam itu dengan ribuan penumpang lainnya Onno harus tinggal di airport menunggu pagi hari tanggal 2 February 2008. Onno cukup beruntung dapat tidur di kursi airport Internasional yang ruangannya ber-AC, banyak juga yang terlihat tidur di lantai beralaskan kardus atau koran. Musholla penuh orang tidur, hingga harus membangunkan mereka untuk memberi tempat bagi yang akan shalat Subuh. Ternyata harta & kekayaan tidak ada artinya, hanya dengan sedikit banjir, semua orang, kaya, miskin, intelek, tidak intelek, bule, hitam, melayu, semua sama hanya manusia yang lemah semata.

[edit] Pranala Menarik

Personal tools