Panduan Kebangsaan: Teknologi

From SpeedyWiki

Jump to: navigation, search

Contents

[edit] Visi yang Diusulkan

Ada beberapa pendorong / driving force utama yang memicu bidang teknologi, beberapa yang utama adalah:

  • Teknologi yang memberi nilai tambah pada kekayaan alam Nusantara demi tercapainya kedaulatan rakyat dalam pangan, energi, air bersih dan akses pada pengetahuan (termasuk pendidikan). Dari Prof. DR. Kusmayanto Kadiman.
  • Teknologi tersebut harus dapat menjadi wahana untuk transformasi bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbasis pengetahuan (knowledge based society). Dari Conceptual Framework NUSANTARA 21.
  • bangsa Indonesia harus bisa mandiri, merdeka dari ketergantungan dalam bidang teknologi. Bahkan jika mungkin, berkontribusi pada transformasi dunia khususnya negara berkembang dengan teknologi yang dikembangkannya.


[edit] Elaborasi Visi

Dalam pembukaan UUD 1945 tertulis dengan jelas bahwa:

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Pada hari ini penjajahan bisa terjadi tidak secara fisik, menggunakan senjata. Penjajahan seringkali bersifat ekonomis, sering kali berbentuk lisensi, copyright, pembatasan akses ke pengetahuan.

Pada tahun 1996, dibawah motor Pak J.L. Parapak yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Jendral Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi. Bangsa Indonesia sempat mengembangkan Konsep Nusantara 21 yang Visinya:

“Menyediakan wahana berbasis teknologi telekomunikasi dan informatika nasional di dalam proses transformasi bangsa Indonesia dari masyarakat tradisional (traditional society) menjadi sebuah masyarakat yang berwawasan IPTEK dan berbasis pengetahuan (knowledge based society).”

[edit] Kata Kunci Penting

Beberapa kata kunci penting yang menjadi pegangan dalam bidang Teknologi, antara lain adalah:

  • mandiri - contoh, tidak tergantung pada vendor luar.
  • swadaya - contoh, masyarakat menginvestasikan dana sendiri untuk keperluan sendiri.
  • langgeng - merupakan konsekuensi logis dari swadaya.
  • kuantitas - contoh, pemerataan hak pendidikan.
  • kualitas - contoh, meningkatkan jumlah penulis buku / journal.
  • keamanan - contoh, mengatasi penipuan / spam di SMS / Internet.
  • produsen - contoh, mengizinkan rakyat membuat sendiri infrastruktur telekomunikasinya.
  • inklusif - contoh, semua layanan harus bisa di akses oleh rakyat disabilitas.

[edit] Kata Kunci Tambahan

  • effective
  • efficient
  • reliable / andal
  • murah - bisa dijangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat
  • mudah - mudah (dipermudah untuk) dipelajari, dipraktekkan, dan diajarkan kembali
  • Kerjasama (team work) - proses pembuatan dan produk akhirnya mudah dikerjasamakan baik antara badan hukum komersial, perusahaan, pabrik, industri, lembaga pendidikan, dan lembaga penelitian.
  • kaderisasi - penguasaan teknologi perlu disebarluaskan dan diberikan pada generasi berikutnya.
  • modal - perlu disiapkan tim yg mengurus atau menyandang modal atau dana pengembangan (produk) teknologi.
  • peneliti - produk teknologi dikembangkan oleh tim peneliti yang baik
  • praktisi - produk peneliti perlu disebarluaskan di masyarakat melalui peran praktisi atau agen-agen dan produsen.
  • koneksi / relasi - agar (produk) teknologi dapat tersebar dan terpasarkan dengan baik diperlukan koneksi atau relasi antara masyarakat dan lembaga2 penting di indonesia. Produk teknologi ybs bisa dikembangkan, digunakan, dimanfaatkan, dan dievaluasi bersama.
  • industri / perusahaan / badan usaha - jika penyangkut (produk) teknologi, mau tidak mau, pengimplementasiannya harus melalui industri. Industri produsen dan pendukung perlu disiapkan.
  • tenaga kerja / karyawan - perlu disiapkan tenaga kerja, ilmuan, praktisi, peneliti yang diperlukan oleh industri / perusahaan (produk) teknologi.
  • padat karya - diusahakan pengembangan produk teknologi yg sangat stratgis potensi keuntungan besar, dan bersifat padat karya di bidang teknologi.
  • kesetiaan - kecenderungan memilih / menggunakan / mengutamakan produk teknologi sendiri ketimbang produk luar indonesia. bahan bakunyapun diutamakan dari negara sendiri.
  • tanggung jawab - produsen produk teknologi bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri indonesia dengan menghasilkan produk2 yg bermanfaat dan berkualitas baik dengan jaminan purna jual yg baik.
  • konsisten / istikomah
  • akurat
  • presisi

[edit] Strategi Secara Umum

[edit] Beberapa Strategi Kunci bidang Teknologi

  • kualitas - Teknologi berbasis kebangsaan yang terintegrasi dengan proses "pendidikan berbasis keunggulan lokal", akan menjamin keberlangsungan teknologi yg dikembangkan, krn pendidikanlah sentra kebudayaan yang melahirkan leader, membangun budaya, menjamin proses kolaborasi dan inovasi melalui  taxonomy informasi dan pengetahuan (content) serta subject matter expert pada bidang-bidang terkait. Dibutuhkan "local leader" yang mengenal dirinya dan bangsanya secara mendalam sebagai hasil pendidikan, yang mampu menghebatkan Indonesia dgn memanfaatkan teknologi dan perangkat manajemen.


  • kualitas & kuantitas - Keberadaan Massa Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas baik menjadi kunci utama dalam bidang teknologi manapun. Dorongan harus dimulai dari kurikulum, pendadaran berfikir out-of-the box, kreatifitas, kemampuan untuk melakukan analisa dan sintesa pengetahuan mulai dari pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi, di barengi dengan dukungan berbagai kegiatan komunitas teknologi di masyarakat - tujuan akhirnya untuk memperoleh sebanyak mungkin massa SDM Teknologi yang berkualitas. Saat ini hanya sekitar 15% massa mahasiswa Indonesia bergelut pada bidang teknik.


  • fokus Kebijakan Teknologi harus secara eksplisit menentukan prioritas / keberpihakan teknologi yang di anut, misalnya:
    • Pangan
    • Energy (Khususnya Bioenergy / Energy non-fosil)
    • Air Besih
    • Akses pada Pengetahuan (Teknologi Informasi, Telekomunikasi, Pendidikan)
    • Industri Kimia berbasis Biomassa
    • Transportasi Massa yang Terintegrasi.


  • kemandirian - Bidang Teknologi sangat tergantung pada partisipasi aktif swasta nasional. Membuat Ekosistem birokrasi yang mendukung untuk tumbuh subur-nya industri teknologi di Indonesia. Streamlining & Pemudahan masalah perijinan, "Proteksi" / memberikan jaminan pasar nasional, insentif pajak (bahkan jika mungkin tax holiday), insentif bagi industri / swasta yang memberdayakan SDM dan masyarakat.


  • kemandirian - Membuat kebijakan cerdas untuk membebaskan beberapa titik kunci dari parameter teknologi agar industri lokal masyarakat menengah kebawah dapat berkembang secara eksponensial. Contoh parameter teknologi, khususnya dibidang Teknologi Informasi, antara lain, adalah :
    • Alokasi kode area (dibawah +62) untuk Telekomunikasi rakyat.
    • Pembebasan beberapa kanal pada alokasi frekuensi GSM & 3G
    • pembebasan frekuensi broadband 2.4GHz, 5.8GHz, 24GHz.
    • kebijakan peering antar sentral telepon telekomunikasi untuk rakyat.

[edit] Strategi Pendukung

[edit] Budaya Mencintai Teknologi Indonesia

  • kemandirian & swadaya, semua Instansi & PNS "gunakan produk dalam negeri" dalam pengadaan barang teknologi. Bukan sekedar SLOGAN saja. Mulai dari laptop, komputer, handphone, sistem operasi dll. Dimulai dengan gadget & peralatan pribadi para "pemimpin". Jangan sampai ada "pemimpin" / Presiden yang menggunakan produk Teknologi luar negeri (non-Indonesia) yang tampil dalam media elektronik / media massa.


  • budaya berteknologi merupakan salah satu "inner drive for development" -- contoh USA, Rusia, Jepang, Cina, dan juga Korea Selatan dan Australia akan mengefektifkan budaya berteknologi.


  • kemandirian - Kibarkan Kembali Indonesia Goes Open Source (IGOS). Semua software yang didanai oleh NKRI harus open source. Source code harus di buka dan di simpan di repository publik di Internet.
    • Kampus-kampus Indonesia di sekarang harus membayar lisensi software dalam orde puluhan juta / tahun / kampus. Devisa Republik dalam orde puluhan Milyard harus lagi keluar karena tidak ada kebijakan yang berani untuk menggunakan Open Source dalam kurikulum di sekolah dan di kampus.
    • Konsekuensi closed source di pelaku usaha swasta menjadikan overhead cost > US$ 300 juta / tahun di alirkan ke vendor di luar negeri.
    • Secara eksplisit lakukan dukungan terhadap komunitas-komunitas developer lokal, seperti, BlankOn http://www.blankonlinux.or.id/

[edit] Sumber Daya Manusia dan Akses kepada Pengetahuan

  • kuantitas - Saat ini per tahun ada sekitar 5 juta anak masuk SD. Sementara perguruan tinggi di Indonesia hanya mampu menelurkan sekitar 650.000+ sarjana / tahun. Dengan keterbatasan APBN dll, perlu strategi agar bangsa ini menjadi bangsa minimal S1 minimal, bukan bangsa SD. Permudah akses terhadap pengetahuan, misalnya :
    • Membuat proses belajar mengajar tidak tergantung infrastruktur, misalnya, homeschooling? e-learning? pendidikan luar sekolah? lebih banyak vocational?
    • Membuat ijazah tidak lagi tergantung sekolah, misalnya, paket A?, paket B?, paket C?, paket A / B / C online?
    • Membeli semua hak cipta buku pelajaran Indonesia dengan harga layak (mengubahnya menjadi creative commons license) dan menyebarkan dalam bentuk softcopy (free e-book) & mirror di berbagai server di OpenIX & IIX.
    • semua akses pengetahuan, harus memenuhi standard untuk akses rakyat disabilitas.


  • kualitas – Perkembangan teknologi sering kali lahir karena kecintaan / kesukaan akan teknologi yang dibibit sejak dini. Ada baiknya di pupuk kegiatan-kegiatan seperti ORARI, RAPI, Pramuka, Scouting, Pencinta Alam, Aeromodeling, Pramuka Bahari, Pramuka Dirgantara, Pramuka Saka TIK dll.


  • kualitas - Teknologi akan sangat tergantung kualitas SDM khususnya bidang Teknik. Data statistik yang ada menunjukan kekuatan SDM dan sistem pendidikan untuk mendukung teknologi hanya sekitar 12-15% total kapasitas perguruan tinggi Indonesia, dengan breakdown sebagai berikut :
    • Jumlah Mahasiswa 308.240 (12% teknik) 2.2000.295 (non-teknik)
    • Jumlah Dosen 13.715 (6% teknik) 210.303 (non-teknik)
    • Jumlah Program Study 1.731 (12% teknik) 12.922 (non-teknik)
    • Jumlah Perg. Tinggi 812 (28% teknik) 2.062 (non-teknik)


  • kemandirian, produsen - pendidikan dan industri harus merupakan kebijakan cerdas yang terintegrasi antara DIKNAS, RISTEK, INDUSTRI maupun PERDAGANGAN dalam mempercepat penyebaran & perputaran ilmu pengetahuan yang membuat spin off :
    • terbangun-nya industri lokal.
    • insentif bagi SDM & Perguruan Tinggi Teknik.


  • kualitas - Mendorong terbentuknya "Knowledge Producer" dalam koridor "Research University". Penelitian perlu di tekankan untuk penelitian terapan yang dapat langsung bermanfaat untuk rakyat banyak. Publikasi ilmiah, 2001-2010, Singapura, Thailand, Malaysia > 30.000. Indonesia tidak sampai 8000. Contoh strategi kebijakan misalnya:
    • Penilaian bukan sekedar dari publikasi ilmiah, tapi publikasi BUKU (sebaiknya free e-book) dengan creative commons license yang bisa diakses / dibaca / dimanfaatkan secara bebas (merdeka) oleh rakyat Indonesia.
    • Membeli semua hak cipta buku Indonesia dengan harga layak, menggunakan creative commons license dan menyebarkan dalam bentuk softcopy (free e-book) & mirror di berbagai server di OpenIX & IIX.
    • Semua tugas akhir mahasiswa, wajib menggunakan creative commons license, dan di upload ke Internet dalam bentuk softcopy (free e-book) untuk dapat di manfaatkan secara bebas (merdeka) oleh rakyat Indonesia. Konsekuensi plagiat harus di tangani secara serius oleh pembimbing tugas akhir, dewan kode etik, maupun aparat.
    • Beri insentif dan bantuan bagi mereka yang mempublikasi tulisan secara bebas (creative commons license) di Internet, seperti, Wikipedia (http://id.wikipedia.org).
    • Budaya eksploratif, kreatif, dan berfikir alternatif perlu di tanamkan sejak pendidikan dini. Berbobot yang lebih pada pendidikan yang bersifat eksploratif / cognitif bukan instructional.


[edit] Inclusif

  • inclusif - teknologi informasi / open source software dan pendidikan inklusif yang mampu mengakomodasi kebutuhan siswa dengan media pembelajaran yang accessible.


[edit] Strategi Taktis Teknologi Informasi

  • kualitas - mengonline-kan sebanyak mungkin layanan pemerintah kepada rakyat dan juga mengonlinekan informasi publik sebagai opendata dalam format yang mudah digunakan kembali (khususnya text ASCII, Open Document Format, maupun PDF). Hal ini bukan mustahil dapat mengurangi / menghilangkan adanya calo, perantara, kebocoran, mark-up. Teknik transaksi secara elektronik menjadi penting terutama masalah security, privacy, authentikasi & non-repudiation. Meng-on-line-kan Layanan Pemerintah (e-government) maupun mengonlinekan informasi publik bukan mustahil akan mendorong agar masyarakat menjadi on-line. Kebijakan Open Source agar proses replikasi layanan e-government maupun peng-online-an informasi publik menjadi murah bagi berbagai instansi tingkat pusat maupun daerah. Audit internal, mekanisme reward & punishment pemerintah akan teknologi informasi menjadi penting agar perencanaan dan implementasi e-government & informasi publik online (opendata / opengovernment) tidak hanya berupa pembelian infrastruktur dan barang saja.


  • kualitas - Perlu kerjasama yang erat lintas sektor birokrasi agar dapat terjadi effisiensi anggaran APBN. Ini perlu dilakukan pada sisi kebijakan, strategic plan, tactical plan. Contoh, KPU 2014 butuh Rp. 2.4T untuk pendataan pemilih. Padahal KPU 2004 hanya butuh Rp. 400M dengan banyak mengandalkan tim relawan guru, pelajar, mahasiswa untuk data entry di bawah. Logikanya, data tersebut harusnya sudah ada di Database e-KTP atau DEPDAGRI. Jadi agak aneh kalau sebuah institusi harus mengeluarkan anggaran yang sedemikian besar pada data yang sama secara teori harusnya ada di institusi lain.


  • kemandirian - Tambahkan pada kebijakan Universal Service Obligation (USO) operator telekomunikasi agar men-zakat-kan akses Internet untuk sekolah di Indonesia. Saat ini ada sekitar 220.000 sekolah, 45+ juta siswa, 3 juta guru di Indonesia. Ada sekitar 60 juta pengguna Internet di Indonesia. Dengan zakat 220.000 sambungan Internet (< 0.5% akses) ke sekolah? Bukan mustahil kita melihat 45+ juta (>20%) bangsa Indonesia menjadi IT literate? Kebijakan ini termasuk kebijakan cerdas, karena proses ini dapat terjadi tanpa (sangat sedikit) menggunakan dana APBN, yang penting pemerintah hanya perlu membuat kebijakan yang mewajibkan redirect kewajiban USO operator telekomunikasi untuk membantu sekolah / pendidikan. Tentunya mekanisme audit perlu di kembangkan untuk mengantisipasi sekolah maupun operator telekomunikasi yang tidak baik.


  • kuantitas - memilih satu teknologi secara all-out / masif / habis-habisan (apakah itu LTE vs. GSM / 3G vs. WIMAX vs. CDMA) menguasai hulu hingga hilir dan juga pengembangan teknologi-nya. Atau kita akan memilih kebijakan seperti sekarang yang menjadikan Indonesia jadi pasar (konsumen) untuk banyak pilihan teknologi dengan konsekuensi kita tidak bisa mempunyai economic scale yang cukup untuk memproduksi dan menguasai untuk satu teknologi-pun? Perlu kebijakan untuk membuat ekosistem yang kondusif untuk manufacturer. Kondisi hari ini lebih murah beli barang jadi dari cina, daripada memasukan komponen & dan melaukan manufactuting & assembling peralatan telekomunikasi.


  • kemandirian, produsen - Data statistik, mobile user penetration 58.7% (2011) 67.9% (2014). Mobile subscriber penetration 119.9% (2011) 137% (2014). Saat ini, lebih dari 220 juta SIM card terjual, pengguna HP lebih dari 120 juta. Kalau satu HP rata-rata seharga Rp. 300.000,- maka uang investasi yang ada dalam orde > Rp. 30 trilyun. Perlu strategi agar:
    • Mewajibkan Pabrikan HP dengan tingkat penjualan tertentu harus me-relokasi pabrik ke Indonesia.
    • Atau memberikan insentif tambahan bagi HP yang berpabrik di Indonesia.
    • Insentif tambahan bagi pabrikan HP untuk bekerjasama kurikulum teknologi HP di kampus-kampus untuk penyiapan SDM maupun mengembangan teknologi / apps.


  • produsen - Pada era mendatang, dimana sumber devisa akan lebih banyak bertumpu pada kreatifitas, industri kreatif dan multimedia seperti game dan animasi. Kita perlu membangun ekosistem yang kondusif untuk developer bidang tersebut, seperti :
    • Membangun kepercayaan, pembangunan payment gateway lokal yang melibatkan operator internet, perbankan, bank sentral, pelaku usaha, layanan hosting
    • Mudahkan ijin usaha & beri insentif pajak. Kebijakan yang tidak kondusif dapat dengan mudah di bypass oleh pekerja kreatif, karena sebetulnya para pekerja kreatif sangat mudah untuk bisa bekerja tanpa ijin usaha dan melalukan usahanya di rumah melalui jaringan multimedia broadband tanpa terdeteksi sama sekali oleh Pemerintah bidang INDUSTRI, PERDAGANGAN, maupun PAJAK.
    • Insentif untuk mengembangkan kurikulum berbasis teknologi, seperti, android & animasi 3D.


  • swadaya, kemandirian, produsen - Sifat teknologi - semakin hari semakin mudah, semakin murah, semakin user-friendly, semakin pandai. Konsekuensinya, sangat mudah untuk membuat infrastruktur sendiri, contoh ISP, RT/RW-net, HotSpot. Secara umum ada dua (2) jenis jaringan infrastruktur IP based di Indonesia, yaitu (a) Infrastruktur Formal dan (b) Infrastrktur Komunitas. Pertanyaannya - apakah rakyat di ijinkan (agar tanpa ijin / lisensi) dapat menggelar infastruktur sendiri ? Jika Rakyat menjadi prioritas, sebaiknya taktik kebijakan yang diambil adalah membuat rendah barrier untuk infrastruktur rakyat dalam koridor yang di tentukan, misalnya, (1) pada tingkat wilayah administatif tingkat yang rendah atau (2) jumlah pengguna yang tidak besar, dengan pembatasan etika. Ijin pada tingkat rakyat Indonesia akan merupakan batu sandungan yang berupa overhead cost yang biasanya tidak terlampaui.




  • swadaya, produsen - Harga BTS Selular komersial Rp. 500 Juta s/d 3 M, harga OpenBTS yang bersifat open source dengan kemampuan yang sama sekitar Rp. 150 juta. Kita perlu secara berani membuat kebijakan agar rakyat dapat berkomunikasi dengan murah. Bukan mustahil kebijakan ini justru akan menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dalam pemberdayaan telekomunikasi rakyat. Contoh kebijakan tersebut misalnya :
    • Ijinkan rakyat untuk mengoperasikan OpenBTS sendiri, khususnya di wilayah perbatas, di wilayah pedesaan / hutan / pulau / kepulauan / daerah terpencil yang kurang sinyal.
    • Beri alokasi kanal (ARFCN) no. 50, 611, 686, 711, 786, 836 dan bebaskan 3 ARFCN tambahan di band 900MHz untuk OpenBTS rakyat.
    • Mempermudah sertifikasi peralatan OpenBTS buatan rakyat.

[edit] Strategi Teknologi Transportasi

Sustainable urban mobility , Sustainable logistics and supply chains.

In one: "Integrated Transport Strategy".

Praktis semua moda transportasi mengalami backlog baik pemeliharaan dan pembangunan, sementara permintaan meningkat tajam tidak terperkirakan. Suasana kepadatan di setiap terminal moda angkutan , bandara, dermaga peti kemas, kereta api dan bis perkotaan merupakan pengalaman keseharian para pengguna. Tanpa suatu blueprint antarmoda yang terintegrasi dan kemauan politik pemerintah yang kuat, upaya ad-hoc pembenahan transportasi sangat dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan2 baru, dan semakin menyulitkan. Terutama untuk mengarustamakan bahwa NKRI adalah negara kepulauan sekaligus negara maritim. Untuk itu Strategi Terpadu Transportasi baik untuk mobilitas di perkotaan (Sustainable Urban Mobility) serta logistik dan rantai pasok yang berkelanjutan (Sustainaible Logistiics and Supply Chains) menjadi keharusan  yang disepakati menjadi visi  NKRI di masa yg akan datang. Untuk menunjang investasi infrastruktur transportasi tsb, persoalan krusial tentang pendanaan dan partisipasi swasta yang sudah terangkum dalam MP3EI, perlu di harmonisasi dan dibuat lebih terinci sebagai rencana investasi pemerintah yang mudah dibaca dan dimengerti oleh para investor, termasuk informasi tentang tingkat dukungan dan jaminan Pemerintah yang menyertainya. 

Ir.Harun al-Rasyid Lubis, MSc, Ph.D E-mail: halubis9@gmail.com Dosen ITB & Chairman, Infrastructure Partnership and Knowledge Center  http://ipkcenter.org/ [ipkcenter.org]

[edit] Strategi Teknologi Bioenergy dan Bioproduct

Industri Kimia berbasis Biomassa

Sektor manufaktur dunia yang mencakup industri kimia, makanan dan minuman, plastik, elektronik, konstruksi, energi, bioteknologi, dan lain-lain total bernilai USD 15 trilyun. Industri kimia sendiri bernilai USD 5 trilyun (ACC 2012) atau Rp 50 ribu trilyun, setara dengan 5 kali GDP Indonesia. Perlu disadari bahwa industri kimia adalah industri strategis yang mengontrol semua industri manufaktur. Bahan baku industri kimia masih mayoritas dari turunan minyak bumi dan gas alam, namun penggunaan biomassa sebagai industrial feedstock dan sumber energi yang lebih sustainable semakin meningkat dan diprediksi akan mendominasi di abad ini (Favre 2008; Grimm 2012; Ragauskas et al. 2006; VCI 2007). Teknologi yang diaplikasikan dalam pemanfaatan biomassa di industri kimia adalah teknologi fermentasi, bioteknologi, bioproses, dan teknologi proses kimia. Sektor manufaktur di Indonesia mencapai 47 % dari total GDP (Indexmundi 2013). Namun hampir semua industri manufaktur Indonesia bukan industri strategis seperti industri kimia. Kontribusi Indonesia dalam total industri kimia dunia hampir bisa diabaikan (<< 1 %) jika dibanding dengan Eropa Barat (29 %), Amerika Serikat (19 %), China (15 %), Jepang (8 %), dan Korea (4 %). Indonesia adalah salah satu produsen biomassa dari pertanian yang terbesar di dunia (FAOSTAT 2010). Hal ini menunjukkan potensi Indonesia yang amat besar dalam industri kimia berbasis biomassa. Ironis sekali melihat potensi yang besar ini belum diterjemahkan menjadi industri kimia strategis berbasis biomassa. Maka Indonesia harus segera berbenah diri untuk mulai menjadikan pengembangan industri kimia berbasis biomassa sebagai salah satu fokus dalam pembangunan. Industri kimia Indonesia tersebut harus menjadi pilar utama sektor manufaktur nasional. Kabinet Indonesia mendatang di tahun 2014 harus melaksanakan pengembangan bidang strategis ini agar Indonesia memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang vital bagi ketahanan nasional. Pemerintah harus bekerja sama dengan kalangan cendikiawan dan pihak industri nasional demi tercapainya ketangguhan industri manufaktur strategis menuju visi Indonesia Jaya.

Yalun Arifin, PhD, AMIChemE E-mail : yalun.arifin@surya.ac.id Director, Center for Bioenergy and Bioproducts Chemical Engineering Department, Surya University. Jalan Scientia Boulevard blok U/7 Gading Serpong, Tangerang 15810, Indonesia

Referensi:

  • ACC. 2012. Global Business of Chemistry American Chemistry Council http://www.americanchemistry.com/Jobs/EconomicStatistics/Industry-Profile/Global-Business-of-Chemistry 30 April 2013
  • FAOSTAT. 2010. Food and Agricultural commodities production.http://faostat.fao.org/site/339/default.aspx November 16, 2010
  • Favre E, Falk, V., Roizard, C., Schaer, E. 2008. Trends in chemical engineering education: Process, product and sustainable chemical engineering challenges. Education for Chemical Engineers 3:E22-E27.
  • Grimm V. 2012. Biomass: Feedstock for the chemical industry. VDI Technologiezentrum GmbH.
  • Indexmundi. 2013. Indonesia Economy Profile 2012.http://www.indexmundi.com/indonesia/economy_profile.html. Accessed 29 April 2013
  • Ragauskas AJ, Williams CK, Davison BH, Britovsek G, Cairney J, Eckert CA, Frederick WJ, Hallett JP, Leak DJ, Liotta CL and others. 2006. The path forward for biofuels and biomaterials. Science 311(5760):484-489.
  • VCI. 2007. Biomass as a Resource for the Chemical Industry. Frankfurt: Verband der Chemischen Industrie e.V. (VCI).


[edit] Keamanan

  • keamanan - Penyalahgunaan dunia maya, sebetulnya cukup meresahkan, seperti, penipuan melalui Internet / SMS? spam SMS?. Saat ini rakyat bingung harus melapor kemana? bagaimana menangani permasalahan mereka, untuk itu:
    • Perlu kebijakan penangan penyalahgunaan dunia maya & telekomunikasi.
    • Memberdayakan aparat untuk dapat secara tegas menindak mereka yang menyalahgunakan dunia maya & telekomunikasi. Mungkin masalah yang paling besar adalah sebagian dari barang bukti berupa softcopy jadi sukar di bawa ke pengadilan.


  • keamanan - Dunia pendidikan juga mengalami serangan yang cukup dahsyat karena adanya kemudahan akses kepada Internet, komputer, telekomunikasi. Beberapa isu besar yang harus di tangani dalam dunia pendidikan, antara lain adalah, kasus plagiat, praktek ijazah palsu, pornografi anak dll. Kita perlu kebijakan yang tegas dan memberdayakan aparat hukum agar bisa lebih berkiprah dalam menangani kasus-kasus ini. Salah satu tool yang cukup baik untuk mencek tingkat / kiprah seseorang menggunakan jasa http://scholar.google.com

[edit] Budaya

  • produsen - industri kreatif yang berbasis innovasi & kreatifitas, seperti, game, game online, animasi, animasi 3D, menjadi salah satu tumpuan budaya positif anak muda.
  • kuantitas - media sosial, twitter, facebook, blog, forum, menjadi media andalan generasi muda dalam bersosialisasi, bergotong royong.
  • kualitas - budaya tulis menulis, menjadi dasar bagi budaya dunia maya. Pelajaran bahasa Indonesia, perlu di arahkan untuk menjadi pelajaran tulis menulis, khususnya melalui blog & wiki.

[edit] Pranala Menarik

Personal tools