Strategi Media Alternatif di Indonesia

From SpeedyWiki

Jump to: navigation, search
Date: Fri, 23 Mar 2012 06:23:51 +0700 (WIT)
From: Onno W. Purbo <onno@indo.net.id>
To: dewi <dewi@ictwatch.com>
Cc: 'dewi ningrum' <dew.ningrum@gmail.com>
Subject: Re: Mohon kesediaan waktunya untuk wawancara via email


On Thu, 22 Mar 2012, dewi wrote:

> Pertanyaan wawancara:
> 
> 1. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan media baru saat ini?

media apapun bentuknya baik yang lama, apakah itu cetak, radio, televisi, media online hingga media baru seperti blog & wiki sifatnya sangat strategis menjadi sangat penting ketika kita ingin melakukan pemberitaan hingga mempengaruhi opini

bedanya media lama, apakah itu cetak, radio, televisi hingga media online biasa menggunakan resource terbatas dan biasanya di kontrol secara baik oleh sekelompok orang apakah itu redaksi hingga owner.

Kecenderungan "penguasa" untuk menguasai media mainstream sebetulnya cukup transparan di Indonesia ini perlu di lawan menggunakan media alternatif yang tidak terkontrol / terkuasai oleh "penguasa".

media cetak, radio, televisi mempunyai keterbatasan tambahan karena ketergantungan pada kertas (cetak), distribusi dll. radio & televisi ketergantungan pada frekuensi, daya, jam tayang dll.

media online yang praktis tidak memiliki ketergantung alami ini. ketergantungan ada pada pengguna internet.

berbeda dengan media lama, media blog & wiki (dan sekitar-nya) menjadi sangat menarik karena

  1. relatif tidak ada ketergantungan pada sumber daya
  2. relatif tidak ada kontrol oleh "redaksi" apalagi "owner"

Ini menjadi menarik karena seseorang atau sekelompok orang yang biasanya tidak dapat masuk ke dalam main stream dapat menyuarakan isi hati / permasalahan-nya tanpa ada kekangan selama tidak melakukan hal yang tidak baik seperti menghina, membohong dll.


> 
> 2. Bagaimana Anda melihat penerapan media baru pada komunitas masyarakat sipil?
> 

ada beberapa masalah utama dalam penerapan di komunitas / masyarakat sipil

  1. tidak suka membaca (mungkin karena tingkat pendidikan? mungkin karena budaya?)
  2. lebih suka diskusi lisan bukan tertulis.
  3. lebih suka menjadi pemirsa, pembaca, konsumen. Bukan penulis, produsen.

Ini perlu secara perlahan melakukan perubahan budaya di Indonesia. Cara yang paling effektif sebetulnya melalui kurikulum sekolah. Kurikulum yang ada sekarang lebih mengarahkan kita sebagai pekerja klerikal / pembantu bukan produsen yang mempunyai ide / kreatifitas.

jika tidak mungkin karena DIKNAS biasanya susah berubah .. mungkin secara perlahan bisa dilakukan melalui proses mulut ke mulut antar komunitas & ini biasanya akan terjadi pada saat mereka melihat manfaat seseorang / komunitas yang dapat memproduksi konten sendiri. Terutama biasanya kalau mereka melihat konsekuensi finansial & konsekuensi kenaikan martabat / derajat.


> 3. Menurut Anda perlukah ada media alternatif lain untuk mengakomodir kepentingan
> masyarakat sipil?
> 
>       - Seperti apa model / kriteria yang sebaiknya ada pada media alternatif
> tersebut agar kelompok atau komunitas masyarakat sipil bisa memproduksi dan
> mendistribusikan informasi? (akurasi, user generated content, isu lokal,
> teknologi,
> dll)


soal akurasi, isu lokal, teknologi dll itu perioda selanjutnya

mungkin yang lebih penting adalah

  1. mendorong orang untuk mengubah budaya dari komunikasi lisan menjadi komunikasi tertulis minimal menggunakan facebook & twitter.
  2. mendorong orang untuk belajar bercerita sukur-sukur berargumentasi panjang berbentuk tulisan bisa di blog atau wiki.
  3. menceritakan ke sebanyak mungkin khalayak / masyarakat sipil kisah-kisah sukses / manfaat dari mereka yang bercerita di media alternatif ini. Supaya mendorong yang lain untuk ikut berpartisipasi di media alternatif.

Cara yang paling gampang sebetulnya kalau guru bahasa indonesia di sekolah-sekolah mau menugaskan murid-murid-nya menulis blog / wiki satu halaman / bulan. Bukan mustahil ini akan mendorong terjadinya peer pressure antar siswa untuk mengubah budaya lisan menjadi budaya tertulis yang baik.

> 
> 4. Kira-kira adakah pengaruh keberadaan media alternatif terhadap media
> mainstream,
> jika iya seperti apa?
> 
>    - Menurut Anda bisakah media alternatif tersebut bersaing dengan media
> mainstream?
> 

sebetulnya saya melihat media alternatif blog, wiki dll bukan sebagai pesaing media main stream malah menjadi wadah pendukung media main stream

Media main stream biasanya dipacu oleh oplah atau rating di samping keterbatasan sumber daya yang ada baik itu berupa jumlah halaman / jam tayang.

Konsekuensinya mereka akan berusaha untuk mencari topik-topik yang panas yang relevan untuk masyarakat banyak. Konsekuensinya isu yang sangat lokal biasa tidak akan di cover oleh media main stream.

Ibarat sebuah piramida atau gunung es, media main stream hanya akan mengcover bagian paling atas saja yang menarik banyak orang dan juga menghasilkan rating & "revenue" paling besar.

Sementara banyak sekali, mungkin sebagian besar isu yang ada di masyarakat, di RW, di RT, di keluarga mungkin tidak akan masuk ke media main stream sebelum dia membesar. Ini perlu di wadahi oleh media alternatif yang tidak di batasi oleh sumber daya seperti media main stream jadi lebih murah & terjangkau oleh masyarakat.

Karena tidak ada kontrol, ini menjadi lebih menarik karena isu menjadi sangat aktual & faktual sesuai dengan apa adanya di masyarakat.

Kalau pemerintah jeli maka akan menemukan banyak sekali masukan dari berbagai posting yang ada di media alternatif ini. Tapi kalau di biarkan & tidak di tindak lanjuti maka masukan yang tidak di penuhi oleh pemerintah di kemudian hari bukan mustahil akan menjadi ancaman.


> 5. Bagaimana pendapat Anda tentang jurnalisme di media baru? perlukah prinsip
> jurnalistik diterapkan?
> 


Ibarat bayi tidak mungkin bayi bisa berlari sebelum melalui tahapan tengkurep, merangkak, berjalan

biarkan itu menjadi sebuah proses jangan belum apa-apa sudah dibuat tidak boleh ini tidak boleh itu

yang penting prinsip-prinsip dasar, seperti,

  1. budaya komunikasi tertulis bukan lisan.
  2. budaya sharing / berbagi.
  3. budaya jujur, tidak menipu.

manusia di beri akal untuk bisa belajar dari pengalaman maupun memperhatikan sekitarnya jadi proses tersebut akan terjadi dengan sendiri-nya jika manusia mau menggunakan akal-nya.

> Hasil wawancara ini nantinya akan dicari benang merahnya untuk kemudian ‘dijahit’
> menjadi laporan penelitian. Terima kasih sebelumnya atas waktu yang sudah
> diluangkan
> untuk menjawab pertanyaan tersebut.
> 
> Salam hangat,
> ___
> Dewi Widya Ningrum
> Indonesian ICT Partnership (ICT Watch)
>
Personal tools